Banten Byakala atau Byakaonan Karangasem Bali

Banten Biakala versi sastra
Byakala Karangasem
Byakala Karangasem
Kata Byakala atau Byakaon dalam Hindu Bali dapat dibagi menjadi dua suku kata:

Baya dan Kaon

Baya artinya segala sesuatu malapetaka/marabahaya dan
Kaon artinya menyeimbangkan/menghilangkan. 

Sehingga Pengertian dari Byakala/Byakaon adalah penetralisir kekuatan bhuta kala yang sifatnya negatif sehingga mencapai keseimbangan lahir dan bhatin dalam kegiatan upacara.

*** Untuk Banten Byakala Berisi Sarana Geting Celeng.

Pada Lontar Rare angon disebutkan: 

“Banten Byakaon inggih punika maka sarana ngicalang sekancanin pikobet-pikobet sane nenten becik, dumugi sidha galang apadang"

Alur/Urutan Pebyakalaan Dirumah (masing-masing penghuni rumah):

Berbaris dari umur yang lebih Tua dulu sampai umur  Terkecil dan yang menjalankan pebyakalaan adalah yang paling kecil umurnya.

Untuk anak yang belum ketus gigi tidak diperbolehkan untuk mengikuti prosesi pabyakalaan ini.
Nganteb Byakala
Nganteb Byakala Oleh Jro Mangku
Semua prasarana pabyakalaan dipersiapakan dengan baik seperti Tirta Byakala, Tirta Prayascita, Tirta Durmanggala, Dupa (Api), Bunga (Puspam), Banten Byakala dan lainnya.

Jro mangku sebagai penganteb banten byakala atau purusa yang lebih tua dan dilakukan di halaman/pekarangan rumah.

Setelah Nganteb/ngastawa selanjutnya natab Byakala, Durmanggala dan Prayascita.
Proses Byakala

Berdiri Berjajar Secara Teratur dari Umur Tua ke Muda
Baca Juga: Kemana Roh/Atman Manusia Setelah Mati? (Karmaphala)

Cara Jalankan Sarana Pabyakalaan:

1. Segau (Diusap pada tangan dan jari-jari terbalik/punggung tangan)

2. Toya Anyar (Meketis 3 kali pada tangan kanan dan kiri terbalik)

3. Keskes Berisi Sambuk (Diusap 3kali setiap persendian mulai dari atas kanan ke kiri: Pundak, Siku, Pergelangan tangan dan jari-jari, Lutut, Pergelangan Kaki & Jari-jarinya), nanti setelah diusap di bakar pada api takepan begitu juga no.4 dan 5

4. Sampat (Cara sama dengan no. 3)

5. Daun-daunan Rangkap {Dap-dap, Ambengan, Padanglepas yang diikat benang tridatu}, (Cara sama dengan no. 3)

6. Telur, (Cara sama dengan no. 3)

7. Baas Kuning di usap-usap pada tangan dan jari

Celek (Pencet) prasarana mirip sumping untuk Cowok=cewek, gunakan jari tengah  kiri untuk nyelek 3X, 
{Nasi Metajuh = untuk cowok, Nasi Metimpuh = untuk Cewek}

Selanjutnya memutar sebanyak 3 kali berlawanan arah jarum jam, ayabang kebawah, lalu tanjung taluh sebanyak 3 kali. Penanjung telur terkahir dipecahkan.

Lanjutkan dengan meketis pada byakala, durmanggala dan prayascita;
{Ketisang dumun ring banten wau ke orangnya}

Meketis Tirta Byakala = natab/ayabang ke bawah, Setelah meketis dapat benang putih dari banten byakala, pakaikan di pergelangan tangan kanan, yang sebelumnya dijepit dahulu oleh jari-jari tangan.

Meketis Tirta Durmanggalanatab/ayabang ke dada
Meketis Tirta Prayascitanatab/ayabang ke atas/luhur

Banten Byakala di lebar di lebuh,

*** Khusus Untuk Banten prayascita dan banten durmanggala dipakai besoknya boleh (Galungan) untuk pebersihan.

Setelah pebyakalaan selanjutnya sembahyang di merajan/kemulan dan selesaikan persiapan/banten-banten untuk besoknya rerahinan galungan atau penyepian (pengrupukan keliling desa).

NB : 

** Pasang gantung-gantungan setelah byakala apabila ada waktu dan kondisi sedang bagus.

** Banten pebyakalaan ini dilakukan saat sebelum (Sehari sebelum) melaksanakan rahina suci Galungan atau Sebelum Rahina Brata Penyepian (tawur kesanga).

** Apabila alur dan tata cara pelaksaan pebyakaonan diatas belum sesuai dengan tata cara di tempat/lingkungan anda, hendaknya bisa dipakai acuan referensi saja.

** INGAT saat hari raya besar agama Hindu janganlah sekali-kali bangkitkan SADRIPU anda karena, kepercayaan Hindu di Bali, SADRIPU tersebut akan kembali lagi di hari raya besar yang akan datang.

** Semua berdasarkan desa kala patra dan kebiasaan dalam setiap keluarga.


Bhagawadgita sloka 9.26

patram puṣpam phalam toyam
yo me bhaktyā prayacchati
tad aham bhakty-upahṛtam
aśnāmi prayatātmanaḥ

Artinya:


Apa yang dipersembahkan kepadaku, sehelai daun, setangkai bunga, setetes air, buah atau biji-bijian dengan cinta bhakti dan kesadaran yang murni, akan  Ku terima.

Semoga kita semua umat sedharman rahayu! Svaha!

0 Response to "Banten Byakala atau Byakaonan Karangasem Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel