Buda Wage/Buda Cemeng Kelawu

Pura Ibu (Dadia)
Pura Dadia : Shri Nararya Kreshna Kepakisan
Uang merupakan sarana/alat pembayaran bagi manusia tetapi bukan tujuan utama manusia mengejar/mencari uang, karena uang bukan segalanya di dunia ini.

Secara tidak langsung manusia memang mengejar uang atau materi di dunia ini, tetapi jika manusia tidak bisa mengendalikan diri dan terus memikirkan uang adalah segalanya maka dia akan terbelenggu dengan dunia kegelapan ini.

Semua referensi dari artikel tentang Buda Wage atau Buda Cemeng Kelawu ini berdasarkan dari kitab Sarasamuscaya dan Lontar Sundarigama.

Lontar Sundarigama menjabarkan, Buda Wage Kliwon yang disebut juga Buda Cemeng Kelawu yakni hari suci pemujaan Bhatari Rambut Sadana, Saat itu diyakini sebagai saat beryoganya Bhatari Rambut Sadana. 

Dalam tradisi agama Hindu di Bali, “Bhatari Rambut Sedana” dipuja sebagai “Dewi Kesejahteraan” yang menganugerahkan harta kekayaan, emas-perak (sarwa mule), permata dan uang (dana) kepada manusia. 

Kegiatan peringatan “Sri Sedana” yang lazim disebut “Rambut Sedana” merupakan hari raya atau odalan bagi uang maupun nafkah yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada umat Manusia.

Dalam sistem kalender Bali, Buda Cemeng Klawu atau Buda Wage Klawu yang jatuh setiap hari Rabu pada wuku Klawu di penanggalan Bali, merupakan hari perayaan /piodalan Ida Bhatara Rambut Sedana yang diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali oleh masyarakat Hindu di Bali.

Pemujaan pada hari ini lebih banyak diperuntukkan untuk Bhatara Sri Sedana. Dewa Kekayaan, kemakmuran, kemurnian, dan kedermawanan selalu dihubungkan dengan Dewi Laksmi. 

Dalam tradisi agama Hindu di Bali, “Batara Rambut Sedana” dipuja sebagai “Dewi Kesejahteraan” yang menganugerahkan harta kekayaan, emas-perak (sarwa mule), permata dan uang (dana) kepada manusia. 

Kegiatan peringatan “Sri Sedana” yang lazim disebut “Rambut Sedana” merupakan hari raya atau odalan bagi uang maupun nafkah yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Mahaesa kepada umat Manusia.

Dilihat dari arti katanya yaitu “Sri” artinya beras, dan “Sedana” artinya uang atau dengan kata lain bagian dari nafkah, maka perayaannya dilakukan di lingkungan rumah tangga dan juga pura di lingkungan desa adat.

Dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, harta kekayaan, termasuk uang yang didapat hendaknya dibagi tiga. Sepertiga buat memenuhi keperluan hidup (kama), sepertiga buat diinvestasikan atau diputar lagi (arta) sehingga menjadi terus bertambah. Sisanya sepertiga lagi mestilah didermakan, di-yadnya-kan (dharma).

Pesu-pesuan Banten Ring Pura Dadia Untuk Tiga Bersaudara, Saat;

Buda Wage Kelawu, Sugian Menak Jawa dan Purnama Kedase (Kecuali odalan besar, pesu-pesuan lain bantennya)

D'Mastika : Banten Pengambean

Kembar (Bomer) : Banten Tipat Kelanan

AdiMantra (Lekonk) : Banten Guru Lan Segehan Ajengan Putih


Banten Guru
Banten Guru
Segehan Ajengan Putih Buda Wage
Segehan Ajengan Putih Buda Wage

Untuk banten dirumah cukup banten penyakcak atau banten sodaan, dan persembahyangan ring pura dadia biasanya dilaksanakan pada sore hari.

Update 20 Nopember 2019
Untuk informasi lainnya akan diperbaharui kembali. Salam rahayu!. Svaha!

1 Response to "Buda Wage/Buda Cemeng Kelawu"

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel