Filosofi dan Makna Rahina Tumpek Landep

Pura Paibon
Pura Paibon : Sri Nararya Kreshna Kepakisan
Tumpek Landep dirayakan pada Saniscara atau hari sabtu Kliwon wuku Landep, secara perhitungan kalender Bali, Tumpek landep dirayakan setiap 210 hari sekali.


Kata Tumpek sendiri berasal dari “Metu” yang artinya bertemu, dan “Mpek” yang artinya akhir, jadi Tumpek merupakan hari pertemuan wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, dimana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta Wara diakhiri oleh Saniscara (hari Sabtu). 



Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing, maka dari ini diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris, tumbak, pisau dan lainnya.

Dewasa kini, senjata lancip itu sudah meluas pengertiannya. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda hasil cipta karsa manusia yang dapat mempermudah hidup seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer dan sebagainya. 

Benda-benda itulah yang diupacarai. Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh disalah artikan, dalam konteks itu umat bukanlah menyembah benda-benda teknologi, tetapi umat memohon kepada Ida Sang Hyang Widi dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati yang telah menganugerahkan kekuatan pada benda tersebut sehingga betul-betul mempermudah hidup (berguna untuk manusia).
Filosofi Tumpek Landep

Dalam Tumpek Landep, Landep yang diartikan tajam mempunyai filosofi yang berarti bahwa  Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. 

Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Tumpek landep merupakan tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran – ajaran agama. 

Pada rerainan tumpek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. 


Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur.

Menurut Dharma Wacana dari Ida Pedanda Gede Made Gunung, Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.

Jadi bisa disimpulkan menurut pendapat kami bahwa Pada Rahina Tumpek Landep hal yang paling utama yang tidak boleh dilupakan ialah hendaknya kita selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. 

Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan kita dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan serta mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.


Tumpek Landep
Prosesi Ngewangsuh Saat Tumpek Landep
Upakara dan Upacara Untuk Pura Dadia

Untuk pura dadia membuat banten tumpek landep yang dikoordinir oleh Jro Mangku Griye serta bage banten mbok komang Limbur. Adapun beberapa banten tumpek landep yang dipakai pada saat tumpek landep serta ngewangsuh duwe Ida Bhatara Paibon.


Bagi anggota tiap-tiap keluarga membuat Banten asokasi untuk persembahyangan sore hari, biasanya mulai pukul 2-3 sore (waktu bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan keadaan).

Tetapi sebelumnya dimulai/diawali dari ngewangsuh duwe Ida Bhatara, seperti keris, pis bolong dan lainnya yang di simpan pada kamar penyimpenan dadia.

Setelah diwangsuh, krama dadia nunas tirta wangsuh tersebut setelah melakukan persembahyangan (bhakti ring pura dadia).

Prosesi Ngewangsuh Saat Tumpek Landep:

Setelah dirumah masing-masing ngewangsuh dan melaksanakan persembahyangan tumpek landep, krama dadia melangsungkan wangsuh lan bhakti ke pura ibu.

Di pura Ibu, diawali dengan ngewangsuh ring pajenengan (penyimpenan) dumun, lantur mebhakti ring jroan, setelah Jro mangku usan nganteb.

Setelah sembahyang (mebhakti) ring jroan lantur ke pajenengan natab, selanjutnya setelah natab baru nunas paice dari lungsuran Ida Bhatara kawitan (pajenengan). #Krama dados majuret lungsuran

Kesimpulan Tumpek Landep

Tumpek Landep adalah hari raya rangkaian dari rahina suci Saraswati,


Saraswati merupakan turunnya ilmu pengetahuan untuk Manusia,


Pagarwesi merupakan hari syukur untuk membuat perlindungan dari ilmu pengetahuan (memagari diri)


Sehingga, rahina suci Tumpek Landep bertujuan untuk menajamkan Pikiran menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan ini.


Dulunya tumpek landep memakai sarwa landep ( runcing ) sebagai simbolisasi, karena seiring jaman terjadi pergeseran kepada sarwa besi sebagai simbol syukur kepada Hyang Pasupati.

Semua Referensi Artikel ini Berpatokan pada dharma wacana: Ida Pedanda Gede Made Gunung.

2 Responses to "Filosofi dan Makna Rahina Tumpek Landep"

  1. Sangat baik informasinya sangat membantu saya, terimakasih Yadnya online semoga Jay terus

    ReplyDelete
  2. Sangat beraneka ragam suku agama dan ras...
    bersyukur sangat tinggal di Indonesia!!!

    Mantab gan, dpt menambah wawasan

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel