Perbedaan Pura Dadia, Paibon, Ibu dan Panti

Pura Dadia Karangasem
Pura Dadia : Shri Nararya Kreshna Kepakisan Karangasem
Sebagai Umat Hindu Pemujaan Terhadap Leluhur Ada Beberapa Tahapan dan Hal itu tertuang dalam berbagai kitab Hindu, seperti Iti Prakerti, Siwa Gama, Putusan Bhagawan Manohari, dan Jajar Kemiri.

Inti daripada isi lontar tersebut yakni; 

Sesunggil karangan paumahan atau satu teritorial pekarangan rumah, berapapun kepala keluarga yang ada di dalamnya, itu wajib membangun Perihyangan yang disebut Sangar Kabuyutan yaitu Kemulan Taksu.

Dalam lontar Siwa Gama, 10 (sepuluh) atau lebih keluarga inti dalam satu pekarangan yang terdiri dari beberapa kepala keluarga harus membuat ikatan kekerabatan berdasarkan satu keturunan yang disebut Sanggah Gede/Merajan Agung atau disebut juga dengan istilah Merajan Pertiwi.

Bila nantinya kepala keluarga ini bertambah, tersebar di beberapa tempat, lalu mendirikan Sanggah Gede/Merajan Agung lebih dari satu, maka wenang ngwangun Paibon.

Bila nanti jumlah Pura Paibon bertambah minimal dua, selanjutnya wajib membangun Pura Panti.

Pura Panti ini minimal 40 teritorial perumahan (pekarangan rumah).

Selanjutnya setelah beberapa Pura Panti didirikan oleh satu soroh keluarga tersebut, barulah membuat Pura Dadia.

Dengan demikian, pengempon Pura Ibu, Pura Panti dan Pura Dadia pastilah satu soroh sebab berasal dari satu leluhur.


Lalu apa sesungguhnya tujuan dari didirikannya Pura Paibon, Panti, dan Dadia itu?

Pura Paibon, Panti, dan Dadia itu tidak lain bertujuan untuk merekatkan persaudaraan kita dengan sesama leluhur.
Mpu Kuturan
Ilustrasi : Mpu Kuturan
Penataan Pura leluhur setelah kedatangan Mpu Kuturan di Bali pada tahun 1001 Masehi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Beliau menata kembali parahyangan mulai dari Sanggah Kemulan Rong Tiga untuk pawongan (rumah tangga),

Sanggah Pamerajan untuk beberapa rumah tangga, di mana dipuja arwah suci para leluhur yang berasal dari garis satu waris; 

Lebih besar dari Sanggah Pamerajan adalah berturut-turut : 

Pura Panti dan Pura Paibon, untuk penyungsungan bagi beberapa Sanggah Pamerajan, 
Pura Dadia, untuk penyungsungan bagi beberapa Panti dan Paibon, 
Pura Kawitan, untuk penyungsungan bagi beberapa Dadia.

Perbedaan status Pura-Pura tersebut ditentukan oleh :

1. Jumlah penyungsung.
2. Jumlah dan jenis Palinggih yang ada.
3. Historis (sejarah berdirinya Pura-Pura itu)
Referensi ini kami dapat dari ;
IDA PANDITA MPU JAYA ACHARYA NANDA

0 Response to "Perbedaan Pura Dadia, Paibon, Ibu dan Panti"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel