Banyu Pinaruh Agama Hindu Bali

Banyu Pinaruh yang dilaksanakan setiap setelah satu hari suci Agama Hindu  seperti Saraswati, Pagerwesi, Nyepi, Siwaratri bahkan hari-hari suci lainnya. 
Banyu Pinaruh Hindu

Banyu Pinaruh sendiri mengandung pengertian dari Bahasa Jawa Kuno, yakni kata banyu sarat artinya air (kehidupan), dan pinaruh yang berasal dari kata weruh artinya pengetahuan. 

Pada hari Banyu Pinaruh, semua pemedek atau umat Hindu Bali hendaknya menuju pantai, sungai, mata air atau sumber air lainnya untuk membersihkan diri baik secara fisik maupun spiritual. 

Ritual dimulai pada subuh sekitar pukul 05.30 pagi seperti sinar matahari pertama mulai muncul, saat orang mulai berjalan ke pantai sebagai simbol merangkul semangat dan energi suatu hari yang baru. 

Sama seperti ritual lain di Pulau Bali, akan ada nyanyian sekaligus persembahan bunga dan hadiah lainnya kepada para dewa (banten/pejati).

Orang kemudian berendam, mandi atau menyeberang ke dalam air untuk mencuci diri, yang diikuti dengan ritual 'kum-kuman', artinya mencuci dengan air suci yang telah dibuat harum oleh berbagai bunga yang bersama-sama telah diberkati oleh pedanda/pinandita.

Proses yang dilakukan saat Banyu Pinaruh, juga bisa melaksanakan penglukatan di beberapa tempat sumber mata air, seperti pantai, klebutan, campuhan dan sumber mata air lainnya. 

Penglukatan bisa dilakukan sendiri ataupun dapat dipandu oleh Pinandita (pemangku setempat).

Budaya Hindu Bali Yang Sering Orang Lain KELIRU:


*  Urutan/Runtutan Sembahyang di Besakih

*  Mantram Trisandya Berkualitas

*  Antisipasi Serangan Niskala Saat Pernikahan Hindu Bali

Sebelum menuju ke tempat penglukatan, ada baiknya untuk membawa perlengkapan sembahyang, seperti canang sari, dupa, sesari atau juga menghaturkan pejati sebagai bentuk permakluman (atur piuning) dalam memohon air suci tersebut. 

Bila di tempat kita tinggal tidak dekat laut, sungai atau danau, maka Banyu Pinaruh bisa dilakukan di rumah, dengan mandi yang bersih. Tetapi sebelumnya nunas dahulu kepada Hyang Widhi Wasa agar diberi kesucian lahir batin.

Setelah melakukan penglukatan, selanjutnya keramas memakai air kumkuman yakni air yang berisi berbagai jenis bunga-bunga segar dan harum, menyimbulkan kesucian jiwa dan raga, agar harum laksana bunga. 

Setelah itu umat mempersembahkan sesajen berupa labaan nasi kuning serta loloh di merajan, setelah menghaturkannya, kemudian diakhiri dengan nunas lungsuran.

Hari raya Banyu Pinaruh ini juga masih ada hubungannya dengan Hari Raya Saraswati yang mana semua umat Hindu bersiap untuk menerima pengetahuan baru. Namun, sebelumnya wajib melalui proses membersihkan diri dengan melukat.

Tidak hanya penduduk setempat, tapi setiap orang termasuk wisatawan dipersilahkan untuk bergabung dalam tradisi ini. 

Selain membasuh tubuh fisik seseorang, Banyu Pinaruh bertujuan untuk membersihkan semua pikiran negatif dan kegelapan yang tetap ada di dalam pikiran dan hati, tidak hanya melalui air namun yang terpenting melalui pengetahuan dan kebijaksanaan yang diberikan atau dirayakan selama hari Saraswati.

Ritual Banyu Pinaruh juga menampilkan tradisi minum-minuman lokal yang disebut Racem. Uniknya, racem merupakan minuman lokal yang juga banyak diminati wisatawan mancanegara.

0 Response to "Banyu Pinaruh Agama Hindu Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel