4 Kualitas Muspa Dalam Hindu Bali

Muspa Adalah simbolis sujud bhakti atau sujud syukur kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.

Manusia Hindu khususnya di Bali, Muspa dilakukan wajib sebanyak 3 (tiga) kali setiap hari. Tetapi karena kesibukan dan pekerjaan kebanyakan dijaman sekarang Muspa dilakukan hanya sekali atau dua kali saja.

Selain itu Muspa yang dilakukan haruslah benar-benar kidmat, benar-benar tulus ikhlas berserah diri kepada Tuhan tanpa meminta imbalan.
Muspa Puyung

MUSPA menjadi salah satu cara umat Hindu di Bali untuk menghaturkan sujud bhakti pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


Lalu apakah rajin muspa menentukan seseorang bisa meraih kedamaian?

Sebab selama ini tidak jarang adanya umat yang rajin muspa, namun kejadian-kejadian buruk tetap menimpanya.

Kondisi ini pula yang menyebabkan banyak umat meragukan keberadaan Tuhan.


Muspa atau wujud bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, di dalam Bhagawad Gita ditegaskan, yang menentukan hasilnya adalah Kualitas Muspa-nya.

Bukan kuantitas atau seberapa banyak dia muspa setiap hari.

Di dalam Bhagawad Gita bagian VII disebutkan, Catur vidha bhajante mam janah sukrtino ‘rjuna, arto jijnasur artharthi jnani ca bharatarsabha’’. 

Artinya, ada empat macam orang yang menyembah Tuhan.

Pertama artah yaitu orang yang mengalami penderitaan, sakit, sakit hati, dan sebagainya.

Biasanya orang yang seperti ini, kualitas muspa-nya sangat dangkal.

Sebab dia hanya berhenti di kesembuhan.

Kedua arta arthii, yaitu penyembah Tuhan dengan tujuan memperoleh kekayaan.

Ketiga jijnyasuh, orang yang sedang mengejar jabatan.

Tentunya kedua tipe Muspa diatas kualitasnya tidak bagus, karena ada transaksi yang dilakukan dengan Tuhan, yang dapat berakibat, saat keinginannya terpenuhi dia akan berhenti muspa atau tetap muspa supaya hal yang telah tercapai itu tidak diusik orang lain.

Dari keempat tipe penyembah Tuhan, yang memiliki kualitas bagus ialah jnani, yakni memuja Tuhan untuk mencapai kebijaksanaan suci mencapai pencerahan rohani untuk mewujudkan bersatunya Atman dengan Parama Atman.

Orang yang muspa dengan tujuan seperti ini, betul-betul menyerahkan diri pada Tuhan.

Kadang-kadang bahasanya ‘nunas ica’, tapi dia mengatur Tuhan untuk memenuhi keinginannya.

Padahal ‘ica’ itu sendiri berarti, “terjadilah atas kehendak Tuhan”. Seharusnya kalau sudah nunas ica atau meminta kehendak Tuhan, harus menerimanya dengan rasa bhakti, karena itu adalah karunia Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa.

Perlu kita sadari, musibah yang kita terima ketika rajin muspa, merupakan sebuah pembersihan dosa-dosa kita di masa lampau atau kehidupan sebelum kita bereinkarnasi menjadi orang saat ini.

Semoga dari artikel 4 Kualitas Muspa Dalam Hindu Bali ini menjadikan umat sedharman lebih mawas diri dalam melakukan persembahyangan sehari-hari.

Source: tribun bali

0 Response to "4 Kualitas Muspa Dalam Hindu Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel