Datang Darimana Saja, Masuk Dapur Dahulu

Tradisi, Budaya Hindu di Bali sangat beragam mulai dari tidak biasa sampai yang lebih kompleks detailnya, itu disebabkan karena warisan turun-temurun.

Begitu juga kebiasaan manusia akan mempengaruhi siklus kehidupan dalam keluarga juga bermasyarakat. Seperti halnya suatu kebiasaan yang sudah berlangsung lama terjadi di Bali, yakni:

"Setiap orang yang datang dari luar rumah, entah melancong atau jalan-jalan, setelah balik/kembali kerumahnya tentu ruangan yang akan di tuju pertama kali adalah Dapur (Paon)"
Dapur Bali
Beginilah alasannya, kenapa sepulang dari bepergian hendaknya masuk ke dapur dahulu!

Dapur merupakan tempat ritual panglukatan, sekaligus menjadi tempat pembersihan, menetralisasi kekuatan negatif yang mengganggu, karena Dapur simbol dari sumber Api, simbol Dewa Brahma.
Di Bali, dapur memiliki beberapa nama, yakni Pawaregan, Peratengan, dan Paon. Ketiga sebutan tersebut sangat lazim didengar telingan masyarakat Bali. 

Kata Pawaregan berasal dari kata wareg yang berarti kenyang (tidak lapar). Agar mampu terhindar dari rasa lapar, maka manusia harus makan, dan tempatnya adalah di dapur. Selanjutnya adalah Peratengan yang berasal dari kata matang yang artinya masak.

Seperti diketahui bahwa aktivitas memasak untuk membuat olahan menjadi matang adalah di dapur.

Paon adalah sebuah istilah yang paling sering didengar. Kata ini sesungguhnya berasal dari istilah Pa Abuan yang artinya tempat abu. 

Tentu dengan demikian sangat mengena dengan konsep memasak masyarakat Bali zaman dahulu. Di mana sebagian besar menggunakan bungut paon atau tempat memasak yang berasal dari batu bata atau tanah liat. 

Di bungut paon inilah nanti abu sisa pembakaran kayu bakar akan terkumpul, sehingga dikenal dengan sebutan paon.

Selain dikenal sebagai tempat untuk memasak, dapur di Bali memiliki banyak makna, baik untuk upacara agama maupun sebagai tempat penyucian diri. Hal tersebut dikaitkan dengan Dapur sebagai Stana Dewa Brahma.

Dalam lontar Wariga Krimping disebutkan bahwa, Dewi Saraswati yang merupakan sakti dari Dewa Brahma sebagai dewa yang memberikan penyucian diri. Saat ada seorang yang cuntaka atau kesebelan setelah melakukan upakara n upacara pitra yadnya, juga bisa memohon anugrah pemelukatan kepada Dewa Brahma di pelangkiran Dapur.

Selain itu, dalam lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja Kalapati, dijelaskan bahwa bahwa tahapan upacara matatah disebutkan, dalam rangka magumi padangan, upacara ini juga di sebut masakapan kepawon dan dilaksanakan di dapur.

Dalam pertamanan tradisional Bali berlandaskan unsur satyam, siwam, sundaram, religi dan usada, juga disebutkan bahwa tanaman untuk keperluan dapur dan tanaman obat-obatan untuk keluarga (toga) biasanya ditanam di dekat dapur. 

Pohon kelor (Moringaoleivera L) sebagai penangkal dan menghancurkan kekuatan negatif. Untuk pohon atau tumbuhan yang berbuah disarankan ditanam pada luar areal pekarangan rumah seperti di tegalan atau natah lain (luar pekarangan rumah).

Butakala
Selain sebagai tempat memasak atau pun tempat makan, ternyata dapur juga menetralisasi ilmu hitam atau pun butha kala yang mengikuti sampai ke rumah. Pernyataan tersebut tertuang dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi.

Oleh karena itu, anggota keluarga yang berpergian hendaknya mengunjungi dapur terlebih dahulu, sebelum ke bangunan utama rumah ketika sudah pulang atau datang dari luar.

Tak jarang di Bali muncul mitos bila penghuninya tidak ke dapur terlebih dahulu, ketika sampai di rumah, maka bhuta kala atau segala ilmu hitam mengikutinya sampai di dalam kamar. 

“Sampai akhirnya penghuni rumah tersebut mengalami perasaan tidak tenang (seperti dihantui) dan tiba-tiba jatuh sakit tanpa sebab yan pasti".

Hal tersebut menandakan bahwa jalanan juga dilalui oleh mahluk niskala (gaib). Namun, pada dasarnya manusia tidak semuanya dapat melihat mahluk gaib tersebut, karena hanya orang-orang tertentu yang memiliki indera keenam yang dapat melihatnya. 

Tidak jarang juga mahluk gaib itu mengikuti manusia ketika dalam perjalanan sampai ke rumah, sehingga perlu adanya upaya untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, beberapa upacara Yadnya di Bali sangat berkaitan erat dengan Puwaregan atau dapur, seperti Ngalukat Bobotan untuk melenyapkan atau melebur segala noda kotoran (leteh) suatu kandungan. 

Juga ritual Pangelepas Awon untuk bayi berumur 12 tahun. “Dengan banten pacolongan untuk upacara kambuhan untuk membebaskan dari pengaruh-pengaruh negatif tri mala.” 

Dikutip dari Sumber: Bali Express

1 Response to " Datang Darimana Saja, Masuk Dapur Dahulu"

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel