Mebiyukukung Tradisi Hindu Bali

Mebiyukukung / Mebiukukung adalah salah satu tradisi Hindu di Bali sebagai siklus hidup pada penanaman padi di sawah, dari menanam padi, mebiukukung hingga nantinya Manyi (Panen Padi).

Mebiyukukung

Tradisi mabiukukung ini hanya dilaksanakan bagi para petani, dan dilakukan di sawah tentunya atau tepatnya pada pintu air masuk atau biasa disebut lubang air (tempat masuknyanya air utama). 

Dalam istilah Bali bagian timur, pintu masuknya air utama disebut dengan CAKANGAN.

Upacara mebiyukukung/mebiukukung ini sejatinya lebih tepat dikatakan sebagai ungkapan rasa syukur kita para petani atas limpahan rahmatNya.

Mebiyukukung merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan "ida sang hyang Widhi Wasa" yang bermanifestasi sebagai Dewi Sri, yang mana beliau di percaya sebagai Dewi kemakmuran yang ada dalam tradisi masyarakat Bali khususnya yang masih memiliki persawahan, karena upacara mebiyukukung ini di laksanakan di sawah, tepatnya kurang lebih satu bulan sebelum masyarakat Bali memanen padinya, atau boleh pada saat beberapa hari sebelum panen tiba.
Mebiyukukung1

Tanpa lahan, sawah tidak akan ada, dan tanpa petani, sawah itu tidak akan bagus hasil yang didapatkan, tetapi tanpa karunia Tuhan, petani tidak akan mendapatkan hasil panen yang berlimpah (paice Ida Sanghyang Widhi Wasa).

Lahan pertanian dijaman sekarang ini sudah banyak sekali di alihfungsikan sebagai bangunan oleh para petani, karena tergiur oleh uang yang banyak dari para investor atau pemebeli lahan.

Semakin menipisnya lahan pertanian yang ada di Bali mengakibatkan tradisi-tradisi unik Hindu di Bali dalam bidang pertanian akan menjadi sangat langka seperti tradisi Mebiyukukung ini, atau upacara ulapambe atau upacara ngantenang dewi sri dan lain sebagainya.


Biasanya dalam upacara mebiyukukung di Bali, terdapat prasarana seperti PENJOR, yang merupakan simbolis dari gunung agung yaitu lambang kemakmuran di dunia ini.

Penjor yang dipakai pada upacara mebiyukukung ini berukuran yang sedang saja, ditempatkan di depan rumah masing-masing

Sarana dan Banten Upakara Mebiyukukungan,

Sarana dan Banten upakara mebiya kukungan terdiri Banten ajuman, banten tegteg, Banten dapetan, dan kain Wastra yang di pasang di padi dan di Pelinggih di padi.


Sumber: Info medsos tampaksiring

0 Response to "Mebiyukukung Tradisi Hindu Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel