Banten Otonan dan Prosesi Otonan Hindu Bali

Banten Otonan
Banten Otonan Hindu Bali

Otonan asal katanya dari kata "WETU" (bahasa jawa kuno) artinya Kelahiran atau Penjelmaan. Seiring dengan waktu pengucapan kata WETU menjadi WETON dan berubah menjadi "OTON" atau "OTONAN".

Otonan merupakan rahina atau hari ulang tahun versi Bali yang di Upacarai atau dilaksanakan setiap 210 hari sekali atau 6 bulan sekali versi Hindu Bali.

Otonan merupakan tradisi kuno bahkan sebelum agama Hindu datang ke Indonesia (Nusantara). 

Otonan Hindu Bali dihitung melalui SaptaWara (Radite, Soma, Anggara, Budha, Wrespati, Sukra, Saniscara) dan PancaWara (Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon).


Manfaat Dari Otonan Hindu Bali

1. Secara psikologis otonan mampu menyehatkan jiwa jasmani rohani.

2. Hidup sang anak (yang diotonin) diberkati dengan keberuntungan dan rejeki.

3. Dipercaya mampu meminimalisir kesalahan-kesalahan terdahulu pada kehidupan sebelumnya.

4. Memancarkan aura positif dalam jiwa dan bedampak baik utuk kesehatan jasmani.


Pelaksanaan Upacara/Upakara Otonan

Setelah prosesi seorang anak dari pertama kali lahir yakni: Proses menanam ari-ari, Kepus Pungsed/Puser, sampai dengan pemberian nama atau upacara tiga bulanan sang bayi dan akan dilanjutkan dengan prosesi Otonan.

Upacara Otonan dilaksanakan dengan meriah dan besar biasanya pertama kali saat usia bayi berumur 210 hari.

Prosesi Upacara Otonan ini dilaksanakan pada kemulan atau merajan masing-masing purusa yang dipimpin oleh seorang pendeta, pemangku, atau tetua dalam keluarga.

Upacara Otonan bermakna sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas berkah dan rahmat yang diberikan-Nya.

Tata cara pelaksanan upacara Otonan ini yaitu:

1. Pemangku melakukan pemujaan (matur piuning/nganteb) untuk memohon kesaksian terhadap Hyang Widhi.

2. Melakukan pemujaan terhadap Siwa Raditya.

3. Melakukan penghormatan kepada leluhur.

4. Melakukan pemujaan saat melaksanakan potong rambut (potong rambut dilakukan hanya sekali saja sebagai simbolis pembersihan kotoran dalam jiwa yakni diatas atau kepala agar terjauh dari sifat negatif).

5. Melakukan pemujaaan saat Otonan dan bersembahyang.


Prosesi otonan ini sebagai simbolis rasa syukur kita sebagai manusia yang berasal dari Brahman dan harus kembali kepada-Nya. Dengan maksud sejak dini kita diajarkan untuk selalu intropeksi diri, mawas diri, mulat sarira agar selalu menghargai hidup ini menjadi lebih bermakna (berguna untuk semua makhluk).


Makna Otonon Hindu Bali

Otonan  yang meriah dan besar biasanya dilaksanakan pada saat pertama kali yakni 210 hari kelahiran sang anak atau 6 bulanan pertama. 

Selanjutnya otonan berikutnya dilaksanakan biasa-biasa saja tetapi tidak boleh dilupakan sampai akhir hayatnya.

Otonan harus dilihat dari nilai rohani dan maknanya dengan benar, jangan hanya dilihat dari segi materi dan besarnya prosesi Otonan tersebut karena faktor keikhlasan dan sikap sang anak atau yang di otonlah nilai prosesi otonan tersebut dititik beratkan.

Tidak akan berguna atau bermanfaat sebuah prosesi Otonan, apabila sang anak tidak menghormati sang guru rupaka (orangtua) dan akan sia-sia pula otonan tersebut jika dilandasi kesombongan seperti pamer kepada tentangga.

Otonan harus dapat merubah perilaku yang tidak benar menjadi tindakan yang santun, hormat, bijaksana dan welas asih baik kepada orang tua, saudara, dan masyarakat.

Otonan yang dilaksanakan dengan sadhana akan mengarahkan orang tersebut kepada realisasi diri yang tertinggi. Karena dalam upacara otonan terkandung makna bahwa kita berasal dari Brahman dan harus kembali kepadaNya.


Menetapkan Otonan Hindu Bali

Dikutip dari Lontar Pawacakan dan Lontar Jyotisha, penetapan otonana tidaklah boleh asal-asalan dan tidak boleh salah, sebab berakibat kurang baik untuk perjalanan sang anak dalam melaksanakan karma wasana menempuh kehidupan di dunia ini.

Tujuan dari prosesi Otonan sudah jelas yakni mengucap rasa syukur kita kepada Sanghyang Widhi Wasa, sebab berkat perkenan-Nya lah Atman atau roh ini bisa bereinkarnasi kembali kedunia ini menjadi manusia yang sempurna dan memperbaiki karma buruk yang kita lakukan pada kehidupan sebelumya, demi tercapainya Moksa.

Untuk menentuka Otonan Hindu Bali, kita harus berpatokan pada sistem kalender Saka Bali yaitu:

** Pergantian hari dan tanggal ketika matahari mulai terbit (antara jam 5-6 pagi),

** Otonan bisa juga ditentukan dari tanda-tanda kruyuk siap (bunyi ayam pertama kali dipagi hari),

** Pada daerah tertentu Otonan ditentukan juga/biasanya dari ketok kulkul dipagi hari,

** Lebih yakin dan jelasnya mencari otonan bisa langsung bertanya dengan orang pintar (balian/sedahan/dukun bali).


Sarana/Prasarana/Bebantenan Upacara Otonan

Upacara Otonan biasanya sarana yang dipersiapkan dan dipergunakan yakni:

Banten Pejati (untuk Bhatara Guru/Kemulan atau Merajan),
Dapetan (sebagai tanda Syukur) dan
Sesayut Pawetuan (untuk Sang Manumadi),
Segehan (untuk Bhuta) dan dapat diisi jajanan seperti kue Tar diatasnya diberi dengan canang sari dan dupa, kemudian didoakan.

Dalam prosesi otonan, terdapat sebuah simbolis yaitu pemasangan benang ditangan berwarna putih.  

Kenapa Dipakaikan Benang Pada Anak Yang di Oton? 

Karena benang mempunyai konotasi “beneng” dalam bahasa bali halus. 

Yang dapat diartikan menjadi dua (2 hal) yakni:

1. Benang dipergunakan sebagai sipat/meteran (membuat lurus sesuatu yang diukur). Maksudnya adalah agar hati anak yang di-Oton selalu di jalan yang lurus/benar.

2. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.


Mantra/Doa Dalam Otonan

Mantra yang bisa digunakan dalam otonan yaitu sebagai berikut:


Om shang bhuta nampik lara sang bhuta nampik rogha,sang bhuta nampik mala,undurakna lara roga wighnanya  manusanya. 
Om sidhirastu Yanama Swaha 

Matepung Tawar

Om purna candra purna bayu mangka purnaya manusa maring marcepada kadi langgenaning surya candra vmangklana langgenganipun manusyania
Om sidhirastu ya nama Swaha

Mesesarik

Kening              :  Om sri sri ya nama swaha
Bahu kanan       : Om anengenaken phala bhoga ya nama swaha
Bahu kiri           : Om angiwangaken pansa bhaya bala rogha ya nama swaha
Telapak tangan  : Om  ananggapaken   phala bhoga ya nama swaha
Tengkuk            : Om angilangaken  sot papaning wong ya nama swaha
Dada                 : Om anganti ati sabde rahayu

Matebus Benang

Om angge busi bayu premana maring angge sarire

Natab Sesayut

Dalam natab sesayut ada 2 mantra yang bisa dipergunakan untuk otonan sederhana

1. Sesayut bayu rauh sai

Om sanghyang jagat wisesa ,metu sira maring bayu, alungguh maring bungkahing adnyana sandi
OOm sri paduka guru ya namah

Om ung sanghyang antara wisesa , metu sira maring  sabda, alungguh maring madyaning adnyuana sandi
OOm sri sri paduka guru ya namah

Om mang sanghyang jagat wises metu sire maring idep. alungguh maring tungtungngin adnyana sandi
OOm sri paduka guru ya namah

2. Sesayut pangenteg bayu

Om dabam jaya bayu krettan dasa atma dasa premanam  sarwa angga ma sariram, wibbbbuh bhuanam dewat makam


Banten Otonan dan Prosesi Otonan Hindu Bali setiap daerah tentunya berbeda-beda sesuai dengan desa kala patra dan tujuan dari Otonan tentunya sama yakni ucapakan syukur kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa atas berkah dan rahmat yang diberikan, agar sang anak selalu dilindungi dan selamat dalam menjalani karma wasana dunia.

Dengan kata lain Otonan merupakan budaya Bali yang patut dilakukan dan dipertahankan karena berdampak positif bagi tradisi adat budaya Hindu.


Source: Hindudharma, I Gst Ngrh Putra Eka, Intisari dan Wikipedia

0 Response to "Banten Otonan dan Prosesi Otonan Hindu Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel