Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Menurut Hindu

Tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan Indonesia, hari spesial untuk masyarakat Indonesia. Semua instansi dan perusahaan akan wajib diliburkan kecuali pariwisata dan usaha dagang akan terus berjalan seperti biasa.


Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Menurut Hindu

Seluruh warga negara kesatuan Republik Indonesia akan merayaka pesta kemerdekaan ini dengan berbagai perlombaan rakyat seperti panjat pinang, lari karung, lomba makan krupuk, lomba pukul bantal dan lain sebagainya.

Semboyan negara Indonesia adalah "Bhinneka Tunggal Ika", berasal dari bahasa kawi (bahasa jawa kuna) yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dan Ideologi Negara Indonesia yakni Pancasila.

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sendiri dikutip dari kalimat yang pernah diucapkan oleh Dewa Siwa dalam kisah Sutasoma sebagai Boddhisattwa, buah karya Mpu Tantular.

Kitab Sutasoma merupakan karya sastra terbesar kedua setelah Nagarakretagama. Keduanya ditulis oleh pujangga istana dari kerajaan Majapahit.

Dikisahkan, Sutasoma adalah Boddhisattwa muda titisan Sanghyang Buddha yang mengajarkan kepada manusia untuk mengendalikan perasaan. Dia tidak suka menjadi raja. 

Karena itu Sutasoma berkelana ke hutan dari negara satu ke negara lainnya dalam usahanya mencari kebenaran jati diri. 

Seluruh binatang buas dan iblis yang ditemuinya di hutan berusaha memangsanya, namun mereka malah berbalik berguru kepadanya karena ketulusan hati Sang Boddhisattwa itu. 

Sehingga akhirnya Sutasoma menjadi penyebar agama Buddha.

Sementara itu, raja raksasa Purusada yang gemar makan daging manusia, yang menganut ajaran Siwa (Hindu) berjanji akan mempersembahkan 100 orang raja kepada Dewa Kala apabila luka dikakinya dapat sembuh. 

Namun Dewa Kala hanya mau persembahan seorang raja yaitu Sutasoma. Sutasoma sendiri bersedia dijadikan korban asalkan ke-100 orang raja yang sudah ditangkap oleh Purusadha dibebaskan.

Dan pada akhirnya Dewa Kala juga sang Purusada merasa terharu menyaksikan kewelasasihan serta keluhuran budi seorang Sutasoma sehingga pada saat itu juga sang Purusada bersumpah tidak akan pernah menyantap daging manusia lagi. 

Ternyata Purusada adalah Dewa Siwa yang menguji iman Sutasoma. Beliau pun meninggalkan tubuh raksasa itu karena menyadari bahwa Sutasoma adalah Sang Buddha.

Dewa Siwa pun bersabda (pupuh 139, bait 5): 

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ing Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa.

Artinya:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua hal yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Buddha dan Siwa sejatinya tunggal. Berbeda Namun Tetap Satu, sebab tak ada kebenaran yang mendua.

Dari kutipan pupuh tersebut maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika tercipta dengan tujuan agar keberagaman umat warga negara Indonesia bisa bersatu dan plurarism.

Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ini lahirlah Ideologi negara yakni "Pancasila" yaitu Lima Dasar Negara Indonesia sebagai pondasi kuat negara agar terus bersatu melawan anti tolerasi umat beragama.

0 Response to "Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Menurut Hindu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

OM Swastyastu, OM Awighnamastu Namo Siddham, OM Siddirhastu Tad Astu Svaha, 
OM Hrang Hring Sah Parama Sivaditya Ya Namah.

Kami Sebagai Publisher Online Menghaturkan Pangaksama Permohonan Maaf Ke Hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Ida Sanghyang Parama Kawi) Beserta Bhatara-Bhatari Leluhur Serta Junjungannya, Tatkala Kami Menceritakan Keberadaan Para Leluhur Yang Sudah Menempati Nirwana, Kiranya Kami Terlepas Dari Kutuk Neraka Apabila Kami Menyebarkan Informasi Dari Berbagai Sumber Yang Kurang Tepat Atau Adanya Kekeliruan. 

OM Tat Pramadat Ksama Svamam Ya Namah. OM Shanti, Shanti, Shanti OM.

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel