Ida Pedanda istri Mas – Surya Dadia Shri Nararya Kresna Kepakisan

by -305 Views
 
Ida Pedanda Istri Mas Karangasem
Foto: Ida Pedanda Istri Mas
 
Redsobek.com – Ida Pedanda Istri Mas seorang Wiku Tapini yang sangat bersahaja. Ide Pedande istri Mas- Surya Dadia Shri Nararya Kresna Kepakisan.
 
Ida Pedanda Istri Mas seorang arsitek banten sekaligus manggala wiku tapini dalam upacara-upacara besar di Pura Agung Besakih. Mulai dari Ekadasa Rudra, Panca Walikrama, Eka Buwana, Tri Buwana, dan Candi Narmada di Pantai Batu Klotok, Ida Pedanda Istri Mas seperti tak dilewatkan momen penting itu. Ia senantiasa hadir di balik kisah besar itu dan begitu dekat dengan sisia-nya.
 
 
Barangkali tak banyak yang mencapai usia 100 tahun di awal melenium ini. Tetapi di Desa Budakeling – desa pusat Brahmana Buddha di wilayah Karangasem, tepat di kaki Bukit Hyang Pinggan, seorang sulinggih merengkuh usia panjang penuh rasa syukur. Dialah Ida Pedanda Istri Mas, sulinggih tua yang menyandang gelar Abra Sinuhun – karena putra diksa-nya telah menurunkan tiga kali upacara diksa (pensucian), dari putra didarma hingga cicit didarma. Sebuah perjalanan inisiasi yang boleh dibilang langka.
 
 
Sore di awal bulan Oktober 2001, saat bunga-bunga bermekaran, kami menginjakkan kaki di halaman Geria Dauh, Budekeling, Karangasem, hendak berbincang dengan pendeta sepuh, arsitek banten tersohor di Bali.
.
.
Memasuki halaman geria tempat Ida Pendanda Istri Mas menghabiskan masa tuanya. Orang bisa jadi mudah terusik, betapa geria ini memberi gambaran rumah-rumah Bali tempo dulu. Kesan kekunaan amat kental. Di sana sini halaman dirimbuni pohon dagdag, sumber pakan babi paling bergizi. Geria ini tak terlihat mewah, begitu sahaja, bahkan nyaris tak terurus.
 
 
Maklum hanya seorang diri Ida Pedanda Istri berada di geria yang cukup luas ini. Mungkin Ida Pedanda merasa lebih nyaman dalam suasana seperti ini. Angkul-angkul dan tembok pembatas pekarangan (pintu utama) geria terbangun dari tanah cetakan.
.
.
Di Bale Daja, tempat Ida Pedanda Istri sehari-hari beristirahat tergantung puluhan lontar embat-embatan, hingga lontar-lontar yang tergantung itu terlihat merumbai-rumbai. Teks yang tak pernah beliau tinggalkan, dibaca kapan saja diperlukan. Sejumlah penghargaan dan gambar Ida Pedanda tergantung kusam di tembok.
 
 
Sore itu, Ida Pedanda duduk melongsor di kursi tua. Raut mukanya bening, tatapannya teduh. Menyapa ramah tamu yang datang.
.
.
Sejak pagi–pagi buta, sebelum surya bertenger di pucak Bukit Hyang Pinggan, Ida Pedanda suntuk menghadiri upacara besar: Homa Jambala Semadi di Pura Taman Sari Budakeling – wilayah di mana dulu adalah asrama Dang Hyang Astapaka, leluhurnya. Upacara ini bisa jadi yang terbesar sejak Dang Hyang Astapaka memimpin upacara Homa di Kerajaan Gelgel lima abad silam – di masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Ada rasa gembira Ida Pedanda bisa menyaksikan upacara itu kembali.
 
 
Dengan tatapan berbinar, Ida Pendanda menyapa kami, “Deriki malinggih di tikehé (duduk di sini, di tikar)”. Suara itu terdengar sedikit serak, mencairkan suasana sedari tadi membeku. Ida Pedanda menampin sirih, dijimpitnya pinang, kapur, lalu mengulum pelan. Tangannya menggiling-giling tembakau.
.
.
Adengan mengunyah sirih ini terlihat seperti ritual mencicipi enam rasa. Sementara matahari sorong ke tepi barat, udara masih begitu gerah. Seperti yogini tua, Ida Pedanda terlihat tenang, segar, kulitnya bersih – tak diganggu keriput, rambut masih hitam legam. Bila pun usur, raganya masih terasa sehat. Bayangkan, serenta itu Ida Pedanda masih kuat mendaki puncak Lempuyang, memuja di Pura Luhur Lempuyang. Ini tentu prestasi luar biasa bagi orang yang telah berusia satu abad.
 
Apa rahasia panjang umur Ida Pendanda Istri?“, saya memulai bertanya. Ida Pedanda menjawab dengan bahasa Bali, “Mirib sangkaning tuyuh, majalan kema-mai, ngayahin wargi. Tiang ten uning, uling 95 tiban tiang mula tan taén katibén sakit, sajawaning duang tiban né wawu, tiang keni strok, mangkin sampun mawali seger, dumadak Ida Hyang swéca (Mungkin karena sibuk, berjalan kesana kemari, mengabdi warga. Dari 95 tahun silam saya memang tak pernah terkena sakit, terkecuali dua tahun baru-baru ini, tiang terkena stroke, sekarang sudah sehat kembali, semoga Ida Hyang memberkati).
 
Ternyata Ida Pedanda adalah tukang cerita yang piawai. Percakapan sore itu berjalan mengalir, ringan dan terkadang kocak. Hampir tak ada jeda berarti. Sembari menyuguhkan kopi hangat, pisang raja, Ida Pedanda berkisah panjang lebar tentang dirinya. Tentang derita dan bahagia. Orang mudah dibuat terkesima – betapa di usia senja Ida Pedanda masih berdaya ingat cerdas. Melebihi kemampuan orang muda.
.
.
Ida Ayu Made Rai, begitu ia akrab dipanggil saat masih welaka (sebelum disucikan menjadi pendeta) bukanlah seorang terpelajar secara formal. Karena tak sekalipun ia pernah mengenyam bangku sekolah.
 
Namun keakarabannya dengan teks beraksara Bali, pengetahuan yang luas tentang wariga, plalutuk (kitab petunjuk upakara) dan lontar lainnya, menunjukkan dirinya sebagai orang yang suka belajar. Tapi Ida Pedanda toh tetap tak enak dengan pujian semacam itu, “Tiang mula tan naen malajah seken, sajabaning tekening entalé ané magantung nika (Saya memang tidak pernah belajar serius kecuali pada lontar yang tergantung itu),” ujar Ida Pendada sembari menunjuk lontar yang tergantung di saka Bale Daja.
 
Kénkénang tiang malajah seken, katungkul paling kema-mai mapangayah kapining braya (Mau bagaimana belajar serius, karena selalu sibuk mengabdi kepada warga),” kenang Ida Pedanda sembari ketawa kecil.
.
.
Sejak remaja beliau Dayu Rai memang telah akrab dengan bebanten. Ia bisa bermingu-minggu berada di satu desa hanya untuk urusan upakara. Entah itu upacara Pitra Yadnya, Buta Yadnya, Dewa Yadnya, dan sebagainya. Hampir tak ada waktu baginya untuk pulang ke geria. Begitu beruntun, bergulir terus dari satu desa ke desa lain, sebelum nantinya upacara itu dipuput sulinggih.
.
.
Di kemudian hari, tanpa disadari, kesibukan itu menjadi semacam “sekolah”, sebuah proses belajar yang kelak melahirkan dirinya sebagai arsitek banten terpercaya. Sampai kini keahlian itu mungkin tak tertandingi. Banyak di antara sarati banten merasa tak lengkap jika tak belajar padanya.
 
 
Awalnya tiang buta huruf,” akunya pendek. Tapi profesi sebagai seorang tapini (sarati banten) menuntut pemahaman lebih luas. Terutama penguasaan warisan teks lontar yang melimpah tersimpan di geria. Lontar-lontar itu harus dibaca, dipahami isinya. Tapi lacur, bagaimana menghadapi teks melimpah itu tanpa tahu baca tulis.
.
.
Pengalaman menarik memicu Dayu Rai ngotot belajar aksara Bali. Suatu hari di sebuah desa, ia dipercaya sebagai tukang banten dalam upacara Pitra Yadnya. Karena begitu banyak sekah (simbolik roh orang yang akan diaben) Dayu Rai kewalahan mengingat satu-persatu sekah – sekah itu. Ia pun mencari cara tersendiri mengingat nama sekah-sekah itu dengan menyelipkan lembaran daun beringin dalam posisi tertentu pada sekah bersangkutan – dengan begitu sekah-sekah itu mudah diingat. Namun cara ini ternyata tak banyak membantu. Timbulah keinginan Dayu Rai belajar aksara, sekiranya di sekah itu bisa disuratkan nama.
 
Beberapa minggu Dayu Rai muda coba belajar baca tulis aksara Bali pada kerabat dekatnya. Dalam tempo singkat, ia dengan mudah mengusai kemampuan baca tulis aksara Bali dengan baik. Selebihnya belajar sendiri, bertanya pada lontar-lontar yang tergantung kusam di saka geria. Inilah awal mula Dayu Rai memasuki peradaban aksara. Peradaban yang kelak mengukuhkan dirinya sebagai brahmana. Menjadi pendeta yang setiap pagi menarikan tarian mudra. Menyongsong Hyang Hari menyingsing di Pucak Bukit Hyang Pinggan.
.
.
Memang sejak tahun 1953 lantaran harus mengikuti jejak suami, Ida Ayu Rai sah menjalani pensucian sebagai sulinggih. Sayang Ida Pedanda Lanang, sang suami mendahului berpulang dalam usia tergolong masih muda. Hingga tugas-tugas kebrahmanaan dituntaskan seorang diri.
 
Bercakap panjang dengan sulinggih kelahiran tahun 1901 ini, orang seakan berhadapan dengan insklopedi banten tebal. Bila dipelajari memerlukan waktu panjang, memang. Pendeta ini tak saja menguasai aturan normatif sebagaimana tersurat dalam sejumlah plalutuk banten. Lebih dari itu, sebagai wiku tapini bersekte Wajrayana Buddha menjadikan upakara itu sebagai “jalan besar” menuju sang maha hakikat.
.
.
Sejak tahun 1963, dalam upacara Eka Dasa Rudra di Pura Agung Besakih, peran pendeta yang satu ini nyata sangat besar. Dialah arsitek banten sekaligus manggala wiku tapini dalam upacara-upacara besar berikutnya di Besakih, mulai dari Panca Balikrama, Eka Buwana, Tri Buwana, dan Candi Narmada di Pantai Batu Klotok. Entalah, Ida Pedanda Istri Mas seperti tak dilewatkan oleh waktu dan momen penting itu. Ia senantiasa hadir di balik kisah besar itu dan sangat dekat dengan sisia-nya. Dan Ida Pedanda sendiri memaknai jalan ini sebagai jalan pelayanan.
 
Tahun 1963 sebelum Gunung Agung meletus, tampaknya merupakan ujian berat bagi Ida Pedanda Istri Mas. Bayangkan seorang diri sebagai wiku tapini ia diberi tanggung jawab mengatur dan menyiapkan rangkain upakara Eka Dasa Rudra di Besakih. “Saat itu saya memang belum paham benar dengan plalutuk, apa lagi mengenai pembagian tempat-tempatnya. Siang malam harus membaca ulang lontar-lontar, sampai- sampai kurus berpikir. (Duké punika gumanti titiang durung tatas pisan ring plalutuk, napi malih ngeninin pedum wedik-wedik. Peteng lemah maritastasang ental, mawinan kantos berag makeneh ),” kenang Ida Pedanda.
 
Sampai kini pengalaman itu tetap terbayang di benak Ida Pedanda. Sehingga kehati-hatian menjadi hal penting dalam menjalankan kramaning tukang banten. Tak saja pada seorang wiku tapini, tetapi bagi siapa pun mendalami upakara dengan benar. Saban hari setiap ada kesempatan, Ida Pedanda Istri pasti melid mewanti-wati para tukang banten, supaya jangan gegabah, senantiasa ingat besuci diri.
.
.
Sejauh itu para tukang banten disarankan hendaknya tak cuma pintar membuat, tapi juga memahami maknanya. “Wantah abot ngamargiang sasana wiku tapini, yaning salah pasurupan turmaning kirang pangresepé tan urungan ngawetuang céda (Sangat berat menjalankan sasana wiku tapini, jika salah dalam tindakan dan kurang pemahaman, tak terhindarkan menyebabkan cacat/mati),” papar Ida Pedanda mewanti-wanti.
 
Namun ada kalanya upakara tak selalu tampil megah. Ekspresinya bisa saja disederhanakan. Tapi sekali lagi menurut Ida Pedanda, hendaknya jangan gegabah, “Ageng alité gumanti mamargi manut genah, sakewanten pedumé mangda pepek, ngeninin uparengganyané dados tunain, sampunang salah surup (Besar kecil upakara hendaknya sesuai keadaan, pembagiannya supaya lengkap, mengenai materialnya bisa saja dikurangi ),” wejang Ida Pedanda pelan. Petuah ini sekaligus menjawab problema yang kini marak, yakni menyangkut esensialiasi upacara. Tapi toh perubahan tetap menunggu proses pendalaman. Tak gampang mengubah pola pikir, memang.
 
 
Dalam usianya yang panjang, ada hal penting diteladani dari pendeta tua ini. Yakni: mengendalikan ego memiliki.
.
.
Memang banyak orang dibuat sakit karena tidak bisa menundukkan ego itu. Ida Pedanda tampaknya sadar betul, bahwa keinginan memiliki, menyebabkan gerakan tidak bebas. ngawinang pajalanne lantud. Boleh jadi karena ini Ida Pedanda tak pernah merasa kehilangan. Walau 2,5 kg emas miliknya hilang saat upacara Eka Buwana di Besakih, Ida Pedanda tetap bisa tertawa, tegar, tak diganggu kejadian menyedihkan itu. “To nguda emas kone pangelingin, mani mati tusing mabekel apan-apan (Kenapa emas ditangisi, besok mati memang tak akan berbekal apa-apa),” ujar Ida Pedanda dingin.
 
Hidup senantiasa mengalir, memang. Ada kalanya usia panjang menjadi karunia atau hukuman. Tetapi Ida Pedanda Istri Mas tetap meyakini: hidup seperti halnya kisah belum usai – begitu panjang dan berliku – susah ditebak di mana titik perhentian. “Kita hanya menjalani, selebihnya terserah Yang Kuasa, sebab tak bisa terkirakan apa yang terjadi esok – tan keni panangkane rauh,” ujar Ida Pedanda Istri.
 
Sementara hari berganti petang. Suara belalang di pagar geria terdengar lamat. Lebih dari tiga jam kami bercakap, tak terasa air mata menitik, senyum yogin tua ini seperti membasuh dahaga. Geria Dauh kami tinggalkan, untuk satu titik kami kembali lagi ke Budekeling, mencium aroma tanahnya, merasakan hening bajra di pagi buta.
 
Pendeta Pembaca Garis Tangan
 
Walau dalam usia renta, pendeta ini sebenarnya jarang berada di geria. Selalu saja ada braya (warga) yang mendak (menjemput). Kadang harus menginap di tempat yang jauh. Minggu-minggu ini beliau mesti berangkat ke Nusa Penida, dalam upacara “Baligia Arnawa”, pensucian samudra. Tak terhitung pula entah berapa kali beliau bolak-balik muput di Jawa, begitu bergulir terus. “Tan taen tiang polih ngelumah, satata majalan kematen. Minab sangkaning tan polih ngelumah ngawanang tiang seger (tiang tak pernah dapat istirahat, setiap hari selalu pergi, itu mungkin sebabnya saya bisa sehat),” papar Ida Peranda rada berguyon.
 
Bagi Ida Pedanda, tiada hari tanpa pelayanan, memang. Bila kebetulan sang pendeta tidak pergi, orang datang tak cuma tanya babanten, tapi tak sedikit yang datang hendak meramal diri. Ada pula yang datang menanyakan bayuh oton, hari baik (dewasa ayu ) atau sekadar kangen. Menurut orang-orang sekitar, Ida Pedanda sosok yang cerdas meramal nasib orang. Ini bukan semata beliau punya “kepintaran” lain, tetapi lebih disebabkan karena Ida Pedanda memahami pawukon begitu mendalam. Berdasarkan pawukon dan hari lahirlah nasib manusia “diramal” sang Sinuhun.
 
Hari lalu, di tahun 1960-an, Ida Pedanda sempat dirubung para pedagang dari pasar Klungkung. Ketika itu kebetulan Ida Pedanda berada di Puri Klungkung. Entah siapa yang menyebar kabar Ida Pedanda pintar meramal nasib orang. Maka para pedagang itu pun datang silih berganti – minta pentunjuk hidup. Namun diantara yang datang tentu banyak yang kecewa. Karena banyak di antara pedagang itu memang tidak punya rejeki jadi dagang. Ida Peranda pun menganjurkan pekerjaan lain, yang cocok dengan hari lahirnya. Justru yang paling kecewa mereka yang bernasib apes sepanjang hidup. Maka Ida Pedanda menganjurkan bayuh oton dan pantangan yang mesti dihindari.
 
Orang bisa saja meramal nasib berdasarkan wariga dan pawukon. Tetapi Ida Pedanda seawal mungkin mewanti-wanti: nasib tak ditentukan oleh ramalan. Namun lebih ditentukan oleh karma. Bekerja dan berusaha adalah cara ampuh menolong diri-sendiri. Disitulah, pada diri-sendiri: tempat paling layak untuk meminta. Tuhan maha pemberkah memang, tapi tanpa usaha, semua sia-sia. “Maka berbuat baiklah,” pesan Ida Pedanda pendek.***
 
narasi: WAYAN WESTA
Foto: Redsobek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.