Mamukur = Penyucian Atma

by -267 Views

Redsobek.comMamukur = Penyucian Atma adalah kelanjutan dari upacara ngaben sebagai bentuk penyucian atma (roh) fase kedua. Mamukur berasal dari kata bhukur, bhu = alam dan ur = atas. Jadi mamukur adalah penyucian atma agar terlepas dari badan halusnya (suksma sarira) berupa sifat-sifat manusia dan keinginannya sehingga bisa menyatu dengan Sang Pencipta menjadi dewa pitara (roh suci). Ritual ini waktu pelaksanaannya tidak harus setelah ngaben, bisa beberapa tahun kemudian tergantung kemampuan,. mengingat biaya yang dikeluarkan berkali-kali lipat dari ngaben.

Dalam prosesi mamukur tidak ada jenazah. Maka dari itu perlu dibuatkan simbol-simbol badan halus dari atma/roh yang akan diprosesi. Tahapan mamukur sangatlah banyak dan lebih rumit dari ngaben. Pelaksanaan upacara Mamukur dan yadnya lainnya disesuaikan dengan kemampuan Sang Yajamana, yaitu mereka yang melaksanakan upacara tersebut. Secara garis besar dan sesuai dengan kemampuan umat upacara ini dibedakan menjadi 3 kelompok,. yaitu yang kemampuannya besar disebut (Uttama), yang kemampuannya menengah disebut (Madhya) dan yang kemampuannya kecil atau sederhana disebut (Kanistama/Nista/ Alit).

mamukur

.

Pada Mamukur dengan tingkatan Uttama rangkaian upacaranya terdiri dari :

a. Ngangget Don Bingin, yaitu upacara memetik daun beringin (kalpataru/kalpavriksa) untuk dipergunakan sebagai bahan puspasarira (simbol badan roh) yang nantinya dirangkai sedemikian rupa seperti sebuah tumpeng (dibungkus kain putih),. dilengkapi dengan prerai (ukiran/lukisan wajah manusia, laki/perempuan) dan dihiasi dengan bunga ratna. Upacara ini berupa prosesi (mapeed) menuju pohon beringin diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lainnya. Sebagai alas daun yang dipetik adalah tikar kalasa yang di atasnya ditempatkan kain putih sebagai pembungkus daun beringin tersebut.

b. Ngajum, setelah daun beringin tiba di tempat upacara, maka untuk masing-masing perwujudan roh, dipilih sebanyak 108 lembar,. ditusuk-an dirangkai sedemikian rupa kemudian disebut Sekah. Jumlah Sekah sebanyak roh yang akan diupacarakan, di samping jumlah tersebut, dibuat juga untuk Lingga atau Sangge. Setelah Sekah dihiasi seperti tubuh manusia dengan busana selengkapnya (berwarna putih), dilakukan upacara Ngajum, yaitu men-sthana-kan roh pada Sekah tersebut,. sekaligus ditempatkan di panggung upacara yang disebut Payajnan (tempat upacara yang khusus untuk itu terbuat dari batang pinang yang sudah dihaluskan).

c. Amet Toya Hening, adalah Rangkaian upacara selanjutnya dapat dilakukan pagi hari menjelang hari H berupa prosesi (mapeed) mengambil air jernih (toya hening) sebagai bahan utama air suci (Tirtha) bagi pandita atau dwijati yang akan memimpin upacara yajna Mamukur tersebut. Toya hening tersebut ditempatkan di bale Pamujaan (Pawedaan) di depan panggung Payajnan.

d. Mapinton atau Mapajati, adalah upacara ini berupa prosesi mapeed bagi puspasarira (roh yang diupacarakan) untuk mempermaklumkan kepada para dewata yang ber-sthana pada pura-pura terdekat,. utamanya pura untuk pemujaan leluhur (Kawitan).

e. Mapradaksina, upacara ini sering disebut Mapurwadaksina, yaitu prosesi mapeed bagi puspasarira yang dipangku atau dijunjung oleh anak cucu keturunannya,. memakai bhusana serba putih,. dilakukan pada hari “H”, setelah upacara Mapinton,. mengelilingi panggung Payajnan sebanyak 3 kali dari arah selatan kearah timur mengikuti jejak lembu putih yang dituntun oleh gembalanya, di atas hamparan kain putih, dilakukan secara khusuk, diiringi gamelan gambang, saron atau slonding,. gong gede, kidung kakawin, pembacaan parwa (Mahabharata) dan Putrupasaji (bisa oleh Walaka senior).

=> Proses Ngaben dan Alur Pitra Yadnya lainnya

mamukur penyucian atma

.

f. Puncak Upacara, bersamaan dengan upacara Mapradaksina atau Mapurwadaksina seseorang atau beberapa Pandita / Sulinggih yang memimpin pelaksanaan upacara juga melakukan upacara:

  • Melaspas bukur atau madya atau padma anglayang, alat untuk mengusung puspasarira yang telah disucikan (di-pralina) berupa meru (beratap bertumpang) dihias dengan hiasan kertas emas,. kemudian ditempatkan di dekat panggung Payajnan.
  • Ngaliwet yaitu upacara menanak nasi sebagai saji tarpana (penek/pulung-pulung kecil) disebut panda,. sebanyak 108 buah dipersembahkan kepada roh yang diupacarakan, disamping dipersembahkan kepada para dewata dan leluhur. Memasaknya dilakukan di depan Sanggar Tawang (depan panggung Payajnan) dipimpin oleh pandita. Beras yang dipersiapkan diatas nyiru berisi lukisan padma dan wijaksara (hurup suci) tertentu dituangi empehan (susu) dan madu (madhuparka).
  • Ngenyitin Damar Kurung yang ditempatkan di sebelah panggung Payajnyan atau di pintu masuk areal upacara.
  • Ngilenan Padudusan yaitu melaksanakan upacara panyucian dutujukan kepada Sanggar Tawang (Sanggar Surya) untuk memohon perkenan para dewa/dewata turun menyaksikan. dan menganugrahkan keberhasilan Yajna tersebut di panggung Payajnan untuk menyucikan roh-roh yang diuparakan.
  • Muspa yaitu upacara persembahyangan yang didahului pemujaan kepada Sang Hyang Surya sebagai saksi agung alam semesta, kemudian kepada para dewata dan leluhur,. serta sembah untuk pelepasan roh (Atma) dari ikatan Sukma Sarira yang diikuti oleh Sang Yajamana dan seluruh keluarga besarnya.
  • Pralina yaitu upacara tahap akhir dilakukan oleh pandita (Sulinggih) sebagai symbol pelepasan Atma dari ikatan Sukma Sarira.
  • Papendetan yaitu mempersembahkan tari-tarian, bahwa tapa pelepasan roh telah dilaksanakan, para leluhur sesaat lagi akan menuju alam sorga.
  • Ngeseng Puspalingga yaitu membakar puspasarira (wujud roh) di atas dulang dari tanah liat atau dulang perak,. dengan sarana sepit, penguyegan, balai gading dan lain-lain,. dengan api pembakaran yang diberikan oleh pandita pemimpin upacara. Upacara ini sangat baik dilakukan pada dinihari saat dunia dan segala isinya dalam suasana hening guna mengkondisikan pelepasan Atma dari keduniawian.

  • Sekah tunggal. Selesai upacara Ngeseng maka arang/abu dari puspasasrira dimasukkan de dalam degan (kelungah) kelapa gading dibungkus kain putih dan dihias dengan bunga harum selanjutnya disthanakan di dalam bukur di atas padma anglayang atau dalam bokor perak diikuti dengan persembahyangan oleh keluarga.

g. Nganyut Sekah ke Segara. Upacara ini merupakan tahap terakhir dari upacara Mamukur = penyucian atma, dapat dilakukan pagi hari selesai upacara Ngeseng Sekah disebut upacara Ngirim. Setelah tiba di tepi pantai, arang/abu yang ditempatkan didalam kelapa gading dikeluarkan dan ditebarkan di tepi pantai yang didahului dengan upacara persembahyangan sesajen kepada Sang Hyang Baruna, sebagai penguasa laut,. sekaligus permohonan penyucian terhadap roh yang diupacarakan dan diakhiri dengan persembayhangan oleh keluarga.

h. Dewapitra Praistha (ngelinggihan Dewapitra/Dewapitara), Upacara ini bukan merupakan bagian dari upacara Mamukur = penyucian atma,. melainkan merupakan upacara kelanjutan dari upacara Mamukur. Upacara ini sering disebut Ngalinggihang Dewa Hyang,. merupakan tradisi lebih lanjut dari mendharma-kana leluhurnya pada pura kawitan masing-masing yang dirangkai pula dengan upacara Nyegara-Gunung atau Maajar-ajar,. seperti ke Goalawah dan pura Dalem Puri serta Penataran Agung Besakih.

Narasi: https://www.instagram.com/p/CqqCbROPuNO/?hl=id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.