Mantram Sembahyang Agama Hindu Sehari-hari

by -208 Views
MANTRAM SEMBAHYANG AGAMA HINDU SEHARI-HARI 
(SANGGAH MERAJAN/KEMULAN)


Sebelum Melakukan Persembahyangan Hendaknya Kita Mempersiapkan Diri, Mental Dan Ketenangan Batin Agar Lebih Fokus Saat Melakukan Sembah Bakti Kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, Juga Mempersiapkan Perlengkapan Sarana Persembahyangan Seperti : Canang/Banten, Dupa dan Toya (Tirta).


MANTRAM SEMBAHYANG AGAMA HINDU SEHARI-HARI


*Menyediakan Canang dan Dupa Secukupnya,
*Menyediakan Tirta atau Toya Anyar Untuk Persembahyangan,


Tirta :  Menaruh  (Di Unggah/Ngunggahang) 1 wadah tirta (1 gelas kecil Tirta/Toya anyar) Pada tiap-tiap pelinggih merajan/kemulan seperti padmasana, Rong telu, Rong dua, Ngrurah atau Taksu. 


Jika Tidak Ada Padamasana, Maka simbolkan Padmasana itu sebagai Pengayengan Surya yang Letaknya di Pojok kanan atau kiri (barat Daya/Timur Laut) Posisi Pemrajan/Kemulan.


Selanjutnya Silakan menghaturkan persembahan banten/sesajen/canang ke setiap pelinggih di rumah kita seperti di Sanggah kemulan, Siwareka, Penunggun karang dan Pelangkiran di kamar-kamar dan lain-lainnya.


Setelah Menghaturkan Persembahan dan Persiapan sarana juga mental diri sudah siap dan tenang, silakan mulai dengan doa/mantram, Pusatkan Pikiran dengan 1 (satu) titik terang dan heningkan pikiran kita agar fokus, tenang, pasrah tulus ikhlas menyerahkan raga/diri kita kepada Tuhan.


Sucikan Dahulu Sarana Dupa dan bunga:

Sucikan Dupa = Om Ang Dupa Dipastra Ya Namah
Sucikan Bunga = Om Puspa Danta Ya Namah


Selanjutnya Silakan melakukan Doa/Mantram Penyucian dan Trisandhya:

1. Doa/Mantram Penyucian Diri :

Om Awignam Astu namo sidham, Om sidhirastu tad astu astu ya namah swaha

Artinya Om Hyang Widhi, kami memujamu semoga atas perkenan-Mu tiada halangan bagi hamba untuk memulai pekerjaan, dan semoga sukses.


a. Asana, Puja Asana = Duduk  (Padmasana, Sidhasana, Silasana, Vajrasana)

  Om Prasada Sthiti Sarira
  Siva Suci Nirmala Ya Namah Svaha

Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Suci, pemelihara kehidupan, hamba puja Dikau dengan sikap yang tenang.


b. Pranayama = Pusatkan Pikiran, Hening dengan 1 titik terang

* Puraka (Menarik Nafas) = Tarik Nafas 1 Detik
      Om Ang Namah

* Kumbaka (Menahan Nafas) = Tarik Nafas 4 detik
      Om Ung Namah

* Recaka (Mengeluarkan Nafas) = Tarik Nafas 2 detik
      Om Mang Namah

Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur alam semesta hamba puja Dikau. 


c. Kara Sodhana (Sarira Suddha)

Om Soddha Mam Svaha (Telapak Tangan Kanan Diatas/Seperti Meminta/Nunas Anugrah)

Om Ati Soddha Mam Svaha (Telapak Tangan Kiri Diatas)

Artinya:
Om Sanghyang Widhi Wasa, sucikanlah hamba dari segala dosa.


d.    Berjapam / Japa Mantra

Meditasi Mantra / Japa Yoga dengan mantra ini dapat dilakukan siapa saja. Biasanya dilakukan sebanyak 108X atau 1 putaran rudraksha. 

Pengulangan mantra dilakukan dengan penuh keyakinan dan kebijaksanaan, bisa juga dengan membayangkan / memvisualisasikan image/gambar Deva Shiva, Brahma, Wisnu, Iswara atau Deva Shri Ganesha dalam pikiran sembari terus mengulang menyanyikan mantra ini dalam hati.

Semoga dengan mengikatkan pikiran kita pada mantra ini kita mendapat vibrasi spiritual setelah melakukan japa dengan mantra ini.

NB :
Lakukan Japam Mantram Sesuai Dengan Ketulusan Anda, Misal 3X atau 9X.
    Kalau Bisa Dengan Japam Gayatri Mantram Lebih Baik.


2.  Puja Tri Sandhya :

1. Om…Om…Om…Bhur Bhuvah Svah,
    Tat Savitur Varenyam,
Bhargo Devasya Dhimahi,
Dhiyo Yo Nah Pracodayat

2. Om Narayana Evedam Sarvam,
Yad Bhutam Yasca Dhavyam,
Niskalanko Niranjano Nirvikalpo,
Nirakhyatah Sudho Deva Eko,
Narayano Na Dvityo Sti Kascit

3. Om Tvam Sivah Tvam Mahadeva,
    Isvarah Paramesvarah,
    Brahma Visnusca Rudrasca,
    Purusah Parikirtitah

4. Om Papo’ham Papa Karmaham,
    Papatma papa sambavah,
    Trahi Mam Pundarikaksah,
    Sabahyabhyantarah Sucih 

5. Om Ksmasva Mam Mahadevah,
    Sarvaprani Hitankara,
    Mam Moca Sarva Papebhyah,
    Palayasva Sada Sivah

6. Om Ksantavyah Kayiko Dosah,
    Ksantavyo Vacika Mama,
    Ksantavyo Manaso Dosah,
    Tat Pramadat Ksamasva Mam,
    Om Santih, Santih, Santih Om


NB:
Bait Trisandhya yang benar dan sering Umat Hindu Keliru :
Bhavyam Seharusnya Dhavyam, Asti Seharusnya Sti, Hitangkara  Seharusnya Hitankara


Artinya:
1. Om Sanghyang Widhi Wasa yang menguasai ketiga dunia ini, Engkau Maha Suci, sumber segala cahaya dan kehidupan, berikanlah budi nurani kami penerangan sinar cahaya-Mu Yang Maha Suci.

2. Om Sanghyang Widhi Wasa, sumber segala ciptaan, sumber semua makhluk dan kehidupan, Engkau tak ternoda, suci murni, abadi dan tak ternyatakan. Engkau Maha Suci dan tiadalah Tuhan yang kedua.

3. Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau disebut juga Siwa, Mahadewa, Brahma, Wisnu dan juga Rudra, karena Engkau adalah asal mula segala yang ada.

4. Om Sanghyang Widhi Wasa, hamba-Mu penuh kenestapaan, nestapa dalam perbuatan, jiwa, kelahiran. Karena itu oh Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari kenestapaan ini, dan sucikanlah lahir bathin hamba.

5. Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Utama, ampunilah hamba-Mu, semua makhluk Engkau jadikan sejahtera, dan Engkau bebaskan hamba-Mu dari segala kenestapaan atas tuntunan suci-Mu oh Penguasa kehidupan.

6. Om Sanghyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa dari perbuatan, ucapan, dan pikiran hamba, semoga segala kelalaian hamba itu Engkau ampuni. Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.

Urutan-urutan sembah bakti, baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama adalah seperti di bawah ini, dengan catatan apabila dipimpin oleh Sulinggih atau Pinandita maka umat melafalkan mantram/doa di dalam hati.


NB : 
Ada Lima Tatacara Menyembah Sesuai Dengan Siapa Yang Kita Sembah, Yaitu:

a. Sembah ke hadapan Sang Hyang Widhi cakupan tangan terletak di atas ubun-ubun / siwa dwara.

b. Sembah terhadap Dewa cakupan tangan berada sejajar kening atau dahi di sekitar daerah tri netra.

c. Sembah terhadap leluhur, cakupan tangan dengan ujung jari sejajar ujung hidung;

d. Penghormatan pada sesama umat, cakupan tangan berada sejajar dengan dada atau hulu hati;

e. Upasaksi kepada Bhuta Kala, cakupan tangan berada di dada / hulu hati dengan ukung jari menghadap ke bawah.


1. Sembah tanpa bunga (Muyung)

Mantram:
         Om Atma Tattvatma Soddha Mam Svaha

Artinya: 
Om Atma atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.


2. Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sanghyang Aditya dengan sarana bunga, Bunga Putih kalau ada (sebagai simbol surya) jika tidak ada, pakai bunga merah saja atau yang lainnya.

Mantram:
            Om Adityasyaparam Jyoti
            Rakta Tejo Namo’stute
            Svetapankaja Madhyasthah
            Bhaskarayo Namo’stute

Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, Sinar Surya Yang Maha Hebat, Engkau bersinar merah, hormat pada-Mu, Engkau yang berada di tengah-tengah teratai putih, hormat pada-Mu pembuat sinar.


3. Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan sarana (Kwangen / Sekar  Angkep  Putih, Kuning, Barak, Selem)

Mantram:
Om namo devaya Adhisthanaya,
Sarva vyapi vai sivaya,
Padmasana ekapratisthaya,
Ardhanaresvaryai namo namah svaha 

Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat kami kepada dewa yang bersemayam di tempat utama kepada Siwa yang sesungguhnya berada dimana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba menghormat.


4. Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Pemberi Anugerah, dengan sarana Kwangen atau bunga.

Mantram:
Om Nugrahaka Manohara,
Deva Dattanugrahaka,
Arcanam Sarva Pujanam,
Namah Sarvanugrahaka,
Om Deva Devi Mahasiddhi,
Yajnangga Nirmalatmaka,
Laksmi Siddhisca Dirghayuh
Nirvighna Sukha Vrddhisca

Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau yang menarik hati, pemberi anugerah. Anugerah pemberian Dewa, pujaan dalam semua pujian, hormat pada-Mu pemberi semua anugerah. Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud Yajna, pribadi suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, kegembiraan dan kemajuan.


5. Sembah tanpa bunga (Muyung).

Mantram:
Om Deva Suksma Paramacintyaya Namah Svaha.

 Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat pada Dewa yang tak berpikiran yang maha tinggi, yang maha gaib.

Setelah persembahyangan selesai dilanjutkan dengan mohon (nunas) Tirtha (air suci) dan Bija/Wibhuti.


6. Metirtha.

Sebelum Tirtha dipercikkan, ucapkan terlebih dahulu mantram ini:

Om Pratama Sudha, Dvitya Sudha, Tritya Sudha, Caturti Sudha, Pancami Sudha, Sudha, Sudha, Sudha Variastu Namah Svaha.

Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga kami dianugerahi kesucian, hormat kepada-Mu.


Dapat pula dengan menggunakan mantram berikut ini:


a. Pemercikan Tiga Kali Ke Ubun – Ubun:
Om Ang Brahma Amrtha Ya Namah
Om Ung Wisnu Amrtha Ya Namah
Om Mang Isvara Amrtha Ya Namah 

Artinya: 
Om Hyang Widhi Wasa, bergelar Brahma, Wisnu, Iswara, hamba memuja-Mu semoga dapat memberi kehidupan (dengan tirtha ini).


b. Minum Tirtha Tiga Kali:
Om Sarira Paripurna Ya Namah,
Om Ang Ung Mang Sarira Sudha,
Pramantya Ya Namah,
Om Ung Ksama Sampuranya Namah.

Artinya: 
Om Sanghyang Widhi Wasa, Maha Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur segala ciptaan, semoga badan hamba terpelihara selalu, bersih, terang dan sempurna.


       c. Meraup, Mengusap Tirtha Ke Muka Ke Arah Atas:
Om Siva Amertha Ya Namah,
Om Sadha Siva Amertha Ya Namah,
Om Parama Siva Amertha Ya Namah.

Artinya: 
Oh Hyang Widhi (Siwa, Sadha Siwa, Parama Siwa) hamba memuja-Mu semoga memeberi amrtha pada hamba.

       d. Memasang Bija:

Mawija atau mabija dilakukan setelah usai mathirta, yang merupakan rangkaian terakhir dari suatu upacara persembahyangan. Wija atau bija adalah biji beras yang dicuci dengan air bersih atau air cendana. 


Kadangkala juga dicampur kunyit (Curcuma Domestica VAL) sehingga berwarna kuning, maka disebutlah bija kuning. Bila dapat supaya diusahakan beras galih yaitu beras yang utuh, tidak patah (aksata)


d.1. Bija Untuk Di Dahi (3 Biji utuh):
 Om Sriyam Bhavantu

Artinya : 
Oh Hyang Widhi, semoga kebahagiaan meliputi hamba

d.Bija Untuk Di Bawah Tenggorokan (2 Biji Utuh):
 Om Sukham Bhavantu

Artinya : 
Oh Hyang Widhi, semoga kesenangan selalu hamba peroleh

d.3. Bija Untuk Ditelan (3 Biji Utuh):
 Om Purnam Bhavantu
 Om Ksama Sampurna Ya Namah Svaha.

Artinya : 
Oh Hyang Widhi, semoga kesempurnaan meliputi hamba, Oh Hyang Widhi semoga semuanya menjadi bertambah sempurna.


Meninggalkan Tempat Suci, Di Dahului Parama Santih:

OM SANTIH, SANTIH, SANTI OM.
Artinya : 
Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga damai dihati, damai didunia dan damai selalu.


CATATAN KAKI :

Dalam kitab Weda Parikrama yang menyebutkan bahwa peletakan bija yang benar adalah :

Ubun-ubun: Om Ing Isana ya namah
Sela-sela alis: Om Tang Tat Purusha ya namah
Pangkal tenggorokan: Om Ang Agora ya namah
Bahu kanan: Om Bang Bamadewa ya namah
Bahu kiri: Om Sang Sadiyojata ya namah
Belakang leher (tengkuk): Om Hang Hrdaya ya namah
Belakang telinga kanan: Om Hring Kaya Sirase ya namah
Belakang telinga kiri: Om Rah Phat Astra ya namah

Dan pada waktu Memegang bunga atau kwangen tidak selalu di ujung jari tengah kanan dan kiri, tetapi juga di jari yang lain, misalnya kalau memakai kwangen, tentu tidak kuat kalau hanya dipegang di kedua ujung jari itu. Yang penting:
Usahakan agar ujung bunga/ kwangen tidak melewati ubun-ubun (Siva dvar = Siwadware).


Kedua telapak tangan menyatu (mencakup) sebagai simbol penyatuan ‘shakti’ dan ‘dharma’.


Patut pula diingat bahwa wija di samping sebagai lambang Kumara, juga sebagai sarana persembahan.


Agaknya perlu juga dikemukakan di sini bahwa wija/bija tidak sama dengan bhasma. Kadangkala antara wija/bija dan bhasma itu pengertiannya rancu.


Wija tersebut dari beras sedangkan bhasma terbuat dari serbuk cendana yang sangat halus. Serbuk ini diperoleh dengan menggosok-gosokkan kayu cendana yang dibubuhi air di atas sebuah periuk atau dulang dari tanah liat.


Kemudian hasil gosokan (asaban) itu diendapkan. Inilah bahan bhasma. Kata bhasma sendiri secara harfiah berarti abu atau serbuk. Kata “bhas” dalam kata bhasma tidak sama dengan kata baas dalam bahasa Bali yang berarti beras. 


Karena kata Bhasma adalah kata dalam bahasa Sansekerta. Pemakaiannyapun berbeda. Kalau wija umumnya dipakai oleh orang yang masih berstatus walaka, sedangkan bhasma hanya dipakai oleh Sulinggih yang berstatus sebagai anak lingsir. Kata wija berdekatan artinya dengan kata Walaka dan Kumara yang berarti biji benih atau putera.


Bhasma dalam hal ini adalah lambang Sunya atau Siwa. Dengan pemakaian bhasma itu Sulinggih bersangkutan menjadikan dirinya Siwa (Siwa Bhasma), disamping sebagai sarana untuk menyucikan dirinya (Bhasma sesa).

Baca Juga: Pengertian dan Dasar-dasar Etika Agama Hindu

One thought on “Mantram Sembahyang Agama Hindu Sehari-hari

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.