Perjalanan Mati Suri Seorang Sulinggih Bali

by -267 Views
Seorang Sulinggih yang ingin menjadi Brahmana hendaknya melewati beberapa tahap ujian secara niskala, salah satunya yakni “Seda Raga” adalah suatu upacara yang merupakan rangkaian upacara mediksa untuk menjadi seorang Brahmana.


Dimana calon sulinggih akan diupacarai layaknya orang mati dan beliau akan mengalami perjalanan spiritual ke surga dan neraka serta dituntun oleh Sang Nabe (Guru Spiritual). 


Upacara ini bertujuan agar Sang Sulinggih mengetahui jalan ke akhirat, sehingga bisa menuntun para arwah dalam upacara Pitra Yadnya.

Berikut adalah pengalaman dari seorang Sulinggih bernama Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi dari Geria Tamansari Lingga Ashrama, Singaraja, saat melaksanakan prosesi ini, beliau mengunjungi tempat-tempat di akhirat.


Perjalanan Mati Suri Seorang Sulinggih Bali


Tegal Penangsaran 

Area yang luas kering dan gersang. Banyak orang yang berbaring tidak bisa jalan, mereka adalah mayat-mayat yang belum diupacarai Pitra Yadnya.


Titi Gonggang

Jembatan tali yang bergoyang terus melewati jurang sangat dalam dimana api berkobar. Dari dasar jurang bergema teriakan minta ampun.


Taru Curiga

Hutan dengan pohon-pohon besar berdaun senjata tajam dan berbuah bola besi.


Ambengan Reges 

Lapangan luas dipenuhi rumput alang-alang, tetapi ketika dilewati berubah menjadi taji yang sangat tajam.


Banjaran Kembang 

Taman bunga yang harum berbagai warna, dan banyak bidadari tersenyum ramah.

Bale Pengangen-angen 

Aula luas dimana banyak sekali orang duduk menunggu reinkarnasi. Mereka yang duduk itu belum dikenali oleh Bhatara Kawitan karena belum disembah oleh keturunannya.

Disini lengan beliau ditarik oleh seorang raksasa dan disuruh duduk dilantai dihadapan seorang pendeta yang duduk di singgasana emas. 


Disamping pendeta itu berdiri seorang tua yang berwibawa, berwajah kaku, tanpa ekspresi. 


Raksasa itu bernama Sang Dorakala, pendeta yang duduk di singgasana itu Bhatara Kawitan beliau, dan orang tua disampingnya adalah Sang Suratma.

Dan setelah menyembah Bhatara Kawitan, kemudian diseret lagi oleh Sang Dorakala, lalu dibuang ke sebuah jurang yang gelap, setelah melayang-layang beberapa saat, lalu samar-samar didengar suara Nabe dan kemudian menjadi bangkit kembali. 


Beliau menyebutkan bahwa total perjalanan tersebut selama 10 jam.




SUMBER ig @calonarangtaksu

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.